Sean Gelael 30 tahun - Melaju di antara Laga dan Asmara, Catatan A.R. Loebis



Waktu melesat
seperti anak panah lepas dari busurnya, sekaligus seolah lintasan sirkuit panjang yang tak pernah berhenti berputar.

Bagi Muhammad Sean Ricardo Gelael, setiap putaran jarum jam adalah akselerasi menuju kedewasaan. Lahir di rumah sakit bersalin Puri Cinere, Jakarta Selatan, pada 1 November 1996, pebalap kebanggaan Indonesia ini melangkah anggun memasuki gerbang usia 30 tahun.

Angka tiga puluh bukanlah sekadar deretan angka di atas kertas kehidupan. Ia adalah sebentuk puncak bukit di mana masa muda yang bergelora berpadu indah dengan kematangan jiwa.


Ricardo Gelael bersama Sean Gelael semasa kecil, besama ibunda Rini Gelael. (seangp)

Di persimpangan usia emas ini, Sean Gelael – Putera  mantan pereli nasional Ricardo Gelael dan aktris senior Rini S. Bono, serta cucu mendiang Dick Gelael pendiri KFC Indonesia itu, layaknya rentetan simfoni megah – melaju kencang memahat prestasi di sirkuit laga, sekaligus mengalun syahdu dalam dekapan asmara.

Bagi mereka yang karib dengan gemuruh aspal dan raungan mesin, nama Sean Gelael adalah bait-bait puisi menyiratkan keteguhan.  Sejak jemari kecilnya pertama kali menggenggam kemudi sebagai navigator cilik di usia delapan tahun, takdirnya seolah telah tertulis di atas lintasan balap.

Aspal sirkuit bukan lagi sekadar tempat berlomba, melainkan seakan rumah tempat ia bertumbuh. Perjalanan melintasi benua, dari kerasnya kompetisi Formula 2 hingga kehormatan menjadi test driver F1 untuk Scuderia Toro Rosso, adalah tempaan api yang membentuk mentalitasnya menjadi baja yang berkilau.

Kini, di arena FIA World Endurance Championship (WEC), Sean telah menjelma menjadi seorang maestro ketahanan.

Balap ketahanan bukan sekadar adu cepat, melainkan sebuah meditasi panjang di atas kecepatan tinggi, tempat di mana fisik dan pikiran diuji hingga batas terluar.

Di panggung inilah Sean mencatatkan lembaran sejarah yang abadi bagi Indonesia. Lintasan legendaris Circuit de la Sarthe menjadi saksi kehebatannya ketika ia mencetak debut magis di ajang 24 Hours of Le Mans 2021.


Sean Gelael ketika naik podium kedua pada kejuaraan Le Mans 24 Jam pada 2021. (jagonya ayam)

Berada di balik kemudi Oreca 07 milik tim JOTA kelas LMP2, Sean langsung merengkuh podium kedua—sebuah torehan sejarah yang menggetarkan kepakan sayap motorsport Asia Tenggara.

Ketangguhannya tak berhenti di sana. Waktu membuktikan bahwa podium tersebut bukan sekadar keberuntungan. Pada 24 Hours of Le Mans 2024, di bawah bendera Team WRT kelas LMGT3, Sean bersama rekan setimnya kembali mendaki podium kedua yang prestisius dengan mobil BMW M4 GT3.

Mengharungi drama 24 jam penuh tekanan, ia membuktikan kelasnya sebagai pembalap elite dunia. Puncaknya, untaian melodi kemenangan paling syahdu tercipta di tanah Amerika pada ajang Lone Star Le Mans 2025 di Circuit of the Americas (COTA), Austin, Texas. Di bawah guyuran hujan deras yang menantang nyali, Sean bersama tim United Autosports #95 sukses menaklukkan badai dan keluar sebagai juara pertama – bahkan mengungguli tim legenda hidup MotoGP, Valentino Rossi. Merah Putih berkibar di puncak tertinggi, sebuah kado terindah sebelum usianya memasuki kepala tiga.

Tak cukup hingga di situ, pada 27 September 2026, Sean bersama tim WRT 32 kembali naik podium pertama di Kejuaraan Fuji Raceway 6 jam di Jepang, merupakan rangkaian kejuaraan FIA WEC 2026. Perlu diberitahu, pada kompetisi 2026 ini, Sean juga mengikuti rangkaian kejuaraan GTWCS (GT World Challenge Series Eropa, yang berlangsung ketat.

Pada 6-8 November 2026, hanya beberapa hari setelah memasuki usia 30 tahun, Sean bersama timnya akan tampil lagi berlomba di Autodrome Nazionale Monza di Monza, Italia, merupakan putaran akhir kejuaraan dunia ketahanan FIA WEC 2026.

Pelabuhan cinta

Namun, seindah-indahnya simfoni di atas sirkuit dan gemerlap piala, hidup akan terasa sunyi tanpa petikan nada cinta di luar lintasan laga. Di balik baju balap yang tebal dan helm yang melindungi wajahnya dari hembusan angin, hati Sean telah menemukan pelabuhan terakhirnya.

Setelah sempat cintanya berpaut dengan beberapa wanita, akhirnya jiwanya telah terpikat dan tertambat pada sosok Hana Malasan, seorang aktris yang keanggunannya meneduhkan dan bakatnya memikat hati.

Hubungan mereka yang mulai bersemi adalah sebentuk oase di tengah  padatnya jadwal kompetisi dunia. Hana hadir bukan hanya sebagai pendamping, melainkan sebagai jangkar yang menjaga hati Sean tetap tenang di tengah badai kompetisi.

Kisah cinta mereka mengalir seperti air yang tenang namun menghanyutkan. Dimulai dari janji suci yang terucap secara personal di bawah langit senja Nihi Sumba yang eksotis (31/10/2025), ketika menyerahkan cincin yang diambil dari dalam kelapa. Tautan asmara itu kian erat sampai akhirnya mewujud nyata dalam ikatan formal.


Lamaran suci dari dalam hati secara personal. Bahagia dan Hana menangis dalam momen adegan romantis dan syahdu itu. (IgSG)

Di bawah saksi langit Bandung yang sejuk, bertempat di NuArt Sculpture Park, keduanya mengukuhkan komitmen dalam satu prosesi lamaran keluarga yang intim dan sarat akan kehangatan, pada 15 Agustus 2026.

Guratan warna merah pada busana adat yang mereka kenakan seolah menjadi simbol keberanian dan cinta yang menyala, siap menyongsong hari esok yang baru.


Sean dan Hana beegitu gembira dan bahagia usai acara lamaran keluarga. (dok)

Cinta mereka pun tak hanya bersemi dalam diam, melainkan juga mekar dalam karya bersama. Lewat karya sinema yang menyentuh jiwa, keselarasan visi mereka terbukti nyata saat Sean mendukung penuh Hana dalam sebuah persembahan seni visual. Kupeluk Kamu Selamanya, merupakan judul filem yang sedang digarap, dimana Sean sebagai produsernya dan Hana sebagai aktrisnya.

Keunikan romansa mereka kian terpancar tatkala mereka memilih merekam memori pra-pernikahan dengan cara yang tak biasa. Mengabaikan kemewahan palsu, mereka memilih lorong-lorong Gelael Supermarket sebagai latar, berbalut busana tradisional Sunda yang anggun lengkap dengan siger yang megah.

Di antara rak-rak makanan dan troli belanja, mereka tertawa, membuktikan bahwa cinta sejati adalah tentang kenyamanan untuk menjadi diri sendiri dan penghormatan yang tulus pada akar sejarah keluarga.


Sean menunaikan ibadah umroh bersama keluarga, termasuk Hana, 2025. (IgSG)

Transformasi Sean Gelael di usia kepala tiga ini adalah sebuah potret keharmonisan hidup yang paripurna.

Penulis pernah bertanya kepada Ibunda Rini Gelael beberapa tahun lalu – ketika bertemu di salah satu kawasan di Sumatera Utara saat Ricardo dan Sean ikut kejuaraan reli mobil – kira-kira bagaimana tentang jodoh Sean Gelael. Bunda Rini mengatakan,” Rezeki, pertemun, jodoh, maut, ada di tangan Tuhan. Nanti ia akan bertemu dengan jodohnya yang sudah ditentukan Allah SWT,” kata Bunda Rini. Sean menemukan idaman hati dan inilah..jodoh dari Sang Penentu.

Nah, sementara petuah sang ayah, Ricardo Gelael, tentang arti sebuah kejujuran dan disiplin, kini telah melekat erat menjadi kompas moral dalam setiap langkah Sean.

Sean telah berhasil menaklukkan dua sirkuit terbesar dalam hidup seorang pria, yaitu, sirkuit ambisi profesi yang dipenuhi piala kecepatan dan sirkuit ketulusan hati yang dipenuhi ketenangan.

Ia mampu melesat mengejar mimpi di ujung dunia tanpa pernah kehilangan arah untuk pulang ke pelukan hangat wanita pilihan hatinya.

Saat lilin ulang tahun ke-30 dinyalakan, udara di sekitarnya dipenuhi dengan doa-doa yang membumbung tinggi, untuk kemaslahatann kehidupan dan karirnya.

Sean Gelael tidak sedang meninggalkan masa mudanya, ia sedang merayakan lahirnya seorang pria dewasa yang utuh.

Di atas sirkuit dunia, ia akan tetap melaju kencang membelah angin demi kehormatan bangsa, sementara di sirkuit kehidupan, ia melangkah pasti dengan menggandeng jemari Hana Malasan menuju altar suci pernikahan.


Ketika Sean dan ayahanda Ricardo Gelael menunaikan ibadah umroh. (jagonya ayam)

Apa nasihat Ricardo Gelael kepada Putera semata wayang itu?

Ini kalimat yang tetap relevan pada usia 30 tahun Sean, kendati diungkapkan dari hati nurani Ricardo pada ulang tahun Sean beberapa tahun lalu.

“Usia seperempat abad (ketika itu), umumnya merupakan batas dimana seseorang harus dapat menentukan pilihan, mengambil keputusan, menjauhkan sikap ego dan terbuka terhadap kritikan orang.”

Itu penggalan nasihat ayahanda Ricardo Gelael terhadap puteranya Sean yang sudah sekitar 22 tahun berkiprah di olahraga keras adu kecepatan di lintasan, alias balap-membalap itu.

]
Sean dan ayahanda Ricardo Gelael dan Bunda Rini Gelael ketika tampil dan juara di Imola. (jagonya ayam)

Ini tambahan petuah Ricardo pada puteranya:

Jauhkan rasa ego dan terbuka terhadap kritik. Karena itu semua akan menjadikan dia orang yang lebih baik. Dan selalu ingat, yang mengatakan kita baik, jelek atau lainnya adalah orang lain.” 

Tidak pernah ada yang kekal di dunia ini. Makanya janganlah selalu mendongak ke atas tetapi harus juga menundukan kepala ke bawah dan terkadang orang-orang yang berada di bawah kita jauh lebih tulus.  

Nasihat sang ayah, secara universal berlaku pada siapa pun, kapan pun, karena siratannya merupakan inti hakekat hidup di dunia fana ini.

Selamat memasuki gerbang usia baru, Sean Gelael. Teruslah melaju, menari bersama kecepatan di sirkuit laga, dan abadi dalam kelembutan asmara. Salam dari para pendukung dan semoga cepat naik pelaminan! (arl)

 
share :
Berita Dilihat Sebanyak 3 kali
Berita Lainnya

Foto
Fia WEC
27/09/2026
» 6 Hours of Fuji di Jepang 2026
- Japan